Geez

Unbelieveable that I have spent my 5 years in my current office already. Yup, today is my “birthday”. Errr…

Okay, the happiest part is me stressless to work here which is good for my mind n soul. But sometimes it could be the worst thing too. So, it becomes less challenge, less gain, less pain. I need some pressure to boost my ability, right?

Saya bingung harus bersyukur atau mengutuk diri sendiri ya?  Gak punya kata-kata banyak. Izinkan saya merenung. Lol.

Jadi Selanjutnya Apa?

Pertanyaan yang ada di kepala gue sekarang adalah: kapan terakhir kali lo niat banget melakukan sesuatu, katakanlah, sampai lo rela digantung terbalik? Well, that question is coming to my head ketika gue dapat kabar teman gue melakukan ini dan itu sebagai bentuk aktualisasi diri. Ya, kapan ya gue terakhir kali begitu? Seingat gue mungkin pas bikin STNK kali ya. Itu juga sempat memakan waktu lama karena kelamaan nunda.

So, now, I keep asking myself, what is next? Apa ya yang seharusnya aku lakukan dengan niat tapi selalu tertunda karena hal sepele? Well, tidakkah pertanyaan yang sama kamu rasakan juga ke dirimu?

Mencoba Normal

Makin ke sini gue makin sadar betapa hidup gue makin nggak normal. Sialnya, bukan hanya di satu aspek, tapi hampir di segala aspek. Salah satunya jam tidur gue.

Setelah gue analisis (ciyeee), ada dua penyebab kenapa jam tidur gue berantakan.

Pertama, tentu saja karena Vainglory. Game MOBA yang satu ini sukses bikin gue yang kutu buku berubah haluan jadi gamer yang doyan begadang sampai pagi. Apalagi sekarang gue punya team yang bisa dibilang lumayan serius. Team gue ini biasanya main mulai pukul sembilan malam sampai pukul dua atau tiga dini hari. Jam main team gue ini nggak kenal apakah besok hari kerja atau hari libur, pokoknya gas terus coeg! Kami main sambil ngobrol via voice call. Jadi kadang tangan dan matanya main game tapi otak sama mulut dengerin curhat yang lain. Random memang. Tapi keren kan bisa multi-tasking? :p

Kedua, pacar. Iya, maksudnya pas kemarin gue punya pacar. Kami LDR Jakarta-Bandung (ya, sebenarnya nggak jauh-jauh amat tapi pokoknya jauh). Karena jarak itu, mau nggak mau selama jadian kemarin kami telponan setiap hari. Rekor kami paling lama bicara di telpon adalah selama empat-lima jam. Biasanya mulai dari pukul sembilan sampai pukul dua dini hari (lalu kalau masih kangen, lanjut di chat sampai pukul empat pagi). Obrolan kami sebenarnya juga random. Bukan bahas hal-hal berfaedah seperti swasembada pangan Republik Indonesia kok. Maklum, norak kelamaan jomblo sekalinya punya pacar jadi lebay telponan sampai pagi. Hahaha!

Sebenarnya penyebab nomor satu tentu saja game. Kehidupan gue sebelumnya sama sekali bukan gamer (ya paling mentok main The Sims sampai  jam 5 pagi sih, tapi sumpah, ini duluuu banget). Terus ketika mendadak gue kenal game Vainglory itu, wah, meeennn candu banget jadinya! Gue merasa diri gue bukanlah gue //apasih// hahaha.

Akibatnya, gue suka bangun kesiangan dan suka ngantuk di kantor. Ini bahaya dan gue tahu gue nggak boleh begini terus. I have to change my habit. So, mulai 1 Juni kemarin gue memutuskan untuk tidur lebih awal, dan berhasil! Yeay! Gue kemarin tidur sekitar jam 21.30. Handphone gw nonaktifkan. Dan voila, gue pikir gue bakal susah tidur tapi ternyata nggak loh. Gue tidur dengan sangat cepat. Tapi akhirnya kebangun sih sekitar jam dua-an karena kebelet pipis. Cuman yah habis itu back to dream lagi. Wow, ternyata gue bisa yah! Hahaha.

Since I’m not a morning person, atau mungkin memang tubuh gue yang udah ngebacanya begitu, gue tetap bangun di jam seperti gue tidur larut karena game. Awalnya gue pikir “Yah ini mah sama aja dong?” But, seteleh gue dalami lagi, gue merasakan ada yang berbeda. Bukan, bukan gue tiba-tiba berubah kelamin. Pas bangun itu badan gue lebih segar, nggak pusing, dan mata gue melek dengan baik (biasanya masih berasa sepet gitu). Hey, this is achievement! Hahaha.

Pokoknya malam ini gue mau coba tidur lebih awal lagi. Gue tahu badan gue nggak sebugar dulu. Gue pun makin menua. Makanya gue sadar banget pola tidur yang baik itu berpengaruh banget sama kesehatan gue. Gue mau beneran coba buat balikin kebiasaan masa kecil gue ini (eh iya loh dulu gue waktu kecil jam 9 udah jalan-jalan di alam mimpi). Terus, main gamenya gimana? Hemm, pertanyaan yang lumayan sulit sih. Tapi kan kesehatan diri lebih penting dari main game kan?

Temen-temen seteam gue juga nyariin dan protes. Mereka bilang gue cupu karena gue tidur di awal, hahaha, ya wajar sih, soalnya gue nggak biasanya kayak gini. Tapi gue hatus berubah dan ini nggak bisa ditunda-tunda lagi. Soal main game, gue bisa bicarakan sama mereka untuk main di jam 8-9an, mungkin. Mungkin yah.

Harapan gue, semoga gue bisa terus mempertahankan kebiasaan baik ini seterusnya sampai akhirnya gue berpikir “Ya, this is the normal me. Ini loh normalnya gue.”

Mengurus Sendiri STNK Hilang

Kata siapa mengurus STNK hilang itu ribet?

Selasa, 8 Maret lalu, saya mendatangi Samsat Jaksel untuk mengurus STNK saya yang hilang. Samsat ini letaknya di Jalan Jend. Gatot Subroto seberang Plaza Semanggi. Tempat ini biasa disebut Komdak. Ingat, kita nggak bisa masuk dari pintu komdak. Kita harus masuk lewat pintu samping area SCBD.

Oh, ya, untuk STNK yang hilang, sebelumnya kita harus mengantongi surat keterangan kehilangan yang dikeluarkan oleh polsek setempat. Gratis. Namun, akibat budaya orang Indonesia yang terlalu nggak enakan karena merasa terbantu, akhirnya keluarlah Rp20.000 buat petugas. Bukan saya lho, tapi Bapak saya yang begini.

Sampai di Samsat, langsung bawa saja kendaraan Anda menuju bagian belakang gedung. Di sana ada tempat cek fisik kendaraan. Motor dan mobil berbaris untuk dicek nomor mesin dan nomor rangka cocok dengan data di kepolisian. Untuk hal ini, kita diminta mengeluarkan biaya Rp20.000 lalu kita akan dapat sebuah form. Petugas akan mengisi form ini, kita hanya perlu menyerahkan fotokopi BPKB (bukan asli). Form selesai diisi. Tanpa diperiksa kondisi kendaraan kita secara sebenar-benarnya. Apakah lampu utamanya bisa nyala, apakah lampu sennya berfungsi, apakah klaksonnya masih bagus, dsb. Tidak, tidak diperiksa. Motor yang sudah selesai dicek fisik, harus diparkir lagi di tempat yang telah disediakan. Tidak boleh parkir dekat lokasi cek fisik. rempong deh…

Setelah parkir, lalu kita diminta menyerahkan form plus fotokopi BPKB itu ke loket dekat sana. Menunggu sekitar 5 menit, nomor TNKB saya akhirnya dipanggil. Saya langsung menuju ke gedung utama, naik ke lantai dua (sesuai informasi pak satpam). Di lantai dua, tanya saja siapapun yang lagi senggang, tunjukkan berkas, dan tanya harus ke mana. Kenapa begini? Yah, sebab judul loketnya sendiri tidak jelas. Tapi selama Anda masih bisa bicara dan berjalan, sudahlah, tanya-tanya saja biar nggak tersesat.

Saya sampai di satu loket, lalu diberikan form untuk diisi. Untuk mengisi form ini, sada baiknya kalau kita bawa alat tulis sendiri daripada antre meminjam alat tulis yang disediakan. Untuk mengisi form ini, lihat saja BPKB. Selesai.

Setelah itu saya disuruh turun ke lantai 1 untuk menuju 3 loket berikut:

  1. Loket Pembayaran
  2. Loket Khusus
  3. Arsip STNK

Di loket pembayaran, saya pikir saya akan disuruh bayar. Ternyata nggak. Belum sih lebih tepatnya. Di loket pembayaran ini saya mendapat catatan pembayaran pajak saya kendaraan saya di masa lalu. Setelah itu ke loket khusus, prosesnya tidak lama. Hanya sekitar 5 menit. Kemudian ke Arsip di bagian basement. Serahkan semua berkas, menunggu nama dipanggil. Naik lagi ke lantai satu. Lalu menuju ke bagian TU. di TU kita diminta menyerahkan semua arsip (termasuk BPKB & KTP asli) lalu ditukar dengan surat keterangan kehilangan STNK. Petugas bilang saya harus datang lagi lusa (karena keesokan harinya tanggal merah, jadi saya diminta datang lusa) untuk melanjutkan prosesnya. Ok, saya menurut. Pulanglah saya.

Lusanya (Kamis, 10 Maret), saya datang lagi sesuai jam yang tertulis di surat keterangan saya. Saya ke TU menukar surat keterangan kehilangan itu dengan berkas-berkas saya kemarin. Dari situ saya disuruh ke lantai dua, tempat awal saya mendapatkan formulir. Saya kasih semua berkas saya lalu saya dapat nomor antrian lagi, tapi kali ini BPKB saya dikembalikan. KTP ditahan. Setelah itu saya disuruh kembali lagi Sabtu. Hlooo…

Saya pikir STNK saya bakal jadi hari Kamis itu lha ternyata saya datang hanya untuk mengambil berkas di TU dan menyerahkannya ke lantai dua. Ealah pak… Yang kasihan itu ada bapak-bapak tua jauh-jauh dari Pamulang hanya untuk “mengantarkan berkas dari TU ke lantai dua”. Menurut saya, ini nggak praktis sih. Ya, walaupun saya nggak tahu mungkin memang sudah prosedurnya seperti ini. Tapi, tetap saja.

Sabtu saya datang lagi. Semua berkas saya dikembalikan (termasuk KTP asli saya yang ditahan). Saya disuruh ke lantai tiga, mereka menyebutnya SKP. Di sana, saya lagi-lagi menyerahkan semua berkas kemudian menunggu dipanggil sekitar 5 menit. Berkas-berkas akan dikembalikan plus saya mendapatkan kertas kuning berisi jumlah pajak yang harus saya bayar. Kemudian saya diminta ke loket Jasa Raharja untuk membayar asuransi. Habis itu saya antre di loket pembayaran lantai 3 (letaknya persis di depan loket SKP) di sini barulah saya bayar sejumlah Rp308.000 (SKP & Jasa Raharja). Selesai dibayar saya turun ke lantai dua untuk menyerahkan berkas-berkas tadi. Menunggu sekitar 10 menit, nomor TNKB saya dipanggil. Di bagian ini, menurut saya. kita harus aktif menanyakan apakah berkas kita sudah selesai diproses atau belum. Tenang saja, petugasnya nggak akan marah kok. Setelah saya selesai di bagian ini saya diminta membayar di loket pembayaran persis di sebelahnya. Jumlah yang harus saya bayar Rp333.000. Lumayan yah…

Akhirnya, saya mendapatkan bukti pembayaran. Berkas-berkas yang tadi dikasih ke loket nggak akan dikembalikan, namun saya mendapat selembar kertas bukti bayar lalu saya disuruh ke loket paling pojok. Di loket paling pojok ini, taruh saja kertas bukti bayar itu di tray kayu yang sudah disediakan. Petugas akan mengambil dan memprosesnya. Sekitar 15 menit saya dipanggil dan diberikan 2 lembar kertas panjang warna biru (STNK) dan coklat (pajak). Yeay, STNK saya akhirnya jadi!!!

Saya pun pulang dengan wajah riang, berharap di jalan nggak lagi-lagi kena tilang


Info:

  • Petugas di Samsat Jaksel ini friendly dan cukup humoris. Sehingga saya merasa terbantu dan berterima kasih sekali atas pelayanannya. Bukan imej kaku dan gahar yang saya temui, namun imej kekeluargaan. Cuma ya itu, ada prosedur-prosedur yang menurut saya masih kurang praktis. But, overall, its is okay lah ngurus STNK sendiri.
  • Meskipun tertulis biaya pembuatan STNK hanya Rp50.0000 jangan terkecoh. Ya, benar itu biayanya. Namun saat pembuatan, bukan biaya itu saja yang ditagih. Ada melainkan juga biaya-biaya lain seperti pajak dan denda. Dendanya sih nggak terlalu besar. Saya telat bayar setahun hanya kena denda Rp46.000.
  • Setelah sukses mengurus surat tilang dan STNK sendiri (tanpa calo!) saya berencana mengurus SIM sendiri. Doakan saya ya semoga lancar 😀

Me Vs Myself

Long time no see, Bloggie!

Sekarang lagi bingung karena gak punya tempat berbagi pikiran. Akhirnya nulis di sini aja deh. Hehe…

Bisa dibilang saya lagi dalam masa-masa down. Gak punya teman untuk berbagi, gak ada tempat untuk cerita. Hingga saya jadi sibuk berjibaku sendiri dengan pikiran-pikiran yang terus bertindihan.

Pertama, kontrol emosi itu bikin emosi. Saya gampang banget marah atau sensi atas sesuatu yang sepele banget. Kalah pas main games, misalnya. Saya marah karena saya kok lemah banget ya, gak bisa meredam kemarahan sepele begitu. Saya merasa “gak dewasa banget ya gue”.

Kedua, kok rasanya saya tuh susah ya memaafkan diri sendiri. Setiap bikin kesalahan, pasti jadi kepikiran. Padahal kadang itu gak sepenuhnya salah saya. Malah, kadang itu memang bukan salah saya, tapi karena masalah itu hubungan saya dengan orang lain jadi gak baik. Makanya saya ga bisa tenang. Kepikiran terus. Setelah itu, minta maaf, okelah dimaafin. Tapi habis itu jadi insecure sendiri.

Tulus gak yah dia maafin gue?
Bakal diomongin di belakang apa gak ya?

Jadi sakit sendiri mikirinnya. Padahal belum tentu begitu. Ya, pikiran saya suka menyerang saya, sadar atau tidak. Saya benci kondisi begini.

Ketiga, saya kurang melampiaskan emosi saya. Saya perlu nangis, perlu teriak, perlu marah-marah….. sama benda mati. Saya cenderung memendam emosi sehingga saya sendiri gak tahu kapan akan meledak. Saya gak suka saya yang seperti ini yang seolah-olah tenang, padahal siap untuk menyemburkan lava. Tapi gimana lagi, saya bukan orang yang meledak-meledak saat itu juga. Saya butuh waktu berpikir “worth it gak kalo gue marah?”

Apa marah satu-satunya cara?
Kalo gue marah, selanjutnya apa? Kepuasaan pribadi doang, atau ada hal manfaat lain?

In the end, saya gak jadi marah. Padahal perlu. Harus ada yang dirilis. Lalu numpuk dan numpuk dan numpuk. Nunggu waktu kapan bakal ngebom. Ah, shiro! >_<

So, dari situ saya mikir gimana hidup saya nanti. Apa bakal kayak gitu terus atau gak. Capek loh konflik batin. Saya berharap kelak dapat pasangan yang bisa menenangkan dan menyemangati saya. Yang menerima saya yang seperti ini. Yang sudi mendengarkan cerita-cerita saya, terlepas itu penting atau gak. Gak susah kan ya? Semoga enggak. Hehe..

Semoga yang lain bisa memahami, bahwa saya manusia yang punya masalah juga. Punya kesedihan yang ga bisa dibagi. Punya kebahagiaan yang ga bisa diutarakan. Gak bisa terus senyum, gak bisa terus ramah. Ada masa-masa up and down.