Suatu Pagi Di Metromini

Tadi pagi, seperti biasa, saya berangkat kerja naik metromini. Bus tersebut rupanya sudah penuh sehingga saya tidak kedapatan tempat duduk. Agak beberapa lama bus berjalan, naik lah seorang ibu muda yang sedang hamil. Kalau boleh saya prediksi kira-kira usia kehamilannya sudah mencapai lebih kurang 7 bulan. Sebab yang saya lihat perutnya sudah cukup besar. Karena bus penuh, maka ibu itu pun terpaksa berdiri seperti saya karena tidak ada satu orang pun yang memberinya tempat duduk! Padahal mereka tidak buta. Tidak pula cacat, tua renta, atau manula. Malah saat ada kursi kosong, diserobot oleh ibu-ibu paruh baya berdandan menor lengkap dengan perhiasan bling-bling, heels, legging, dan rambutnya yang berwarna light brown. Saya tidak habis pikir. Semiskin itu kah moral dan sopan santun masyarakat kita???

Saya rasanya tidak berguna sekali pada waktu itu. Harusnya saya bisa saja meminta orang-orang di bus tersebut dengan baik-baik agar ada yang mau memberikan tempat duduknya untuk ibu muda tersebut. Bodohnya, saya memilih untuk menunggu ada orang lain yang turun sehingga bisa bergantian duduk dengan ibu muda itu. Nah, kesempatan datang. Mbak-mbak di depan saya turun. Saya siap-siap membooking kursi itu. Bukan untuk saya, tapi untuk ibu muda itu. Eh, malah mbak-mbak yang berdiri di samping saya marah-marah : “Mbak, mau duduk nggak sih?! Saya aja deh yang duduk kalo Mbak nggak mau duduk!” Mbak itu berkata dengan ketusnya.

Saat itu, gondok hati saya. Duuuh, bener-bener deh! Apa nggak ada yang lihat ada ibu hamil berdiri??? Hellooooo….. Setahu saya sopan santun yang saya dapat dari ibu saya sampai sekarang masih belum berubah kok peraturannya (bahwa kita harus memprioritaskan kursi untuk ibu hamil, manula, dan penyandang cacat). Saya balas gerutuan mbak itu dengan sedikit senyum. Ya, sedikit saja. Rasanya malas menanggapi orang “kampungan” seperti itu.

Ya, kampungan. Saya menyebut mereka kampungan. Orang yang less attitude begitu pantas kok dipanggil seperti itu. Heran, padahal orang kampung yang benar-benar dari kampung saja masih banyak yang tidak seperti sebagian orang kota yang rendah sekali tingkat toleransinya. Cih!

Kampungan itu :
– Seragam sih PNS, tapi kalo di angkot suka makan duku terus buang sampah sembarangan.
– Titel sih Dr. Prof. tapi kalo marah-marah sama bawahan keluar deh kata-kata kebun binatang dan makhluk halus lainnya.
– Ngaku sarjana muda, tapi ngerokok di tempat umum, di bus misalnya.

Semua orang yang attitude-nya memprihatinkan saya sebut dengan “kampungan”. Terkesan kasar memang ya? Namun itulah saya. Sarkastik dan mengena.

Well, saya sendiri bukan orang yang attitudenya grade A. Tidak. Saya kadang juga suka ‘asal’ bertingkah. Dan menurut saya, sah-sah saja selama tidak merugikan orang lain. Kita juga harus tahu tindakan kita sejauh mana ‘asal’nya, kepada siapa ‘asal’nya, dan bagaimana. Misalnya, kalau sedang bercengkrama dengan teman-teman, kadang keluar deh ‘asal’nya. Tapi tetap harus dalam batas wajar.

Sekian, and please don’t be “kampungan”! Keep your attitude, guys 🙂

Advertisements

One thought on “Suatu Pagi Di Metromini

  1. Saya pernah tuh, tapi beneran ketiduran koq. Tapi pernah juga nyediain duduk buat ibu-ibu gitu.. kadang ngerasa gak enak, tp perlu juga. Egoisme emang perlu diredam.
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s