Aku Kembali

Telepon genggamku tidak henti-henti bergetar sejak tadi aku di kereta. Bossku memanggil . Ah, mana aku peduli. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku lakukan di sini. Ibu sakit keras. Maksud aku, kali ini ibu benar-benar di ujung sakitnya. Setidaknya begitu kata, Bayu (25), adikku. Aku yang tidak biasanya sepanik ini menjadi resah dan gelisah mendengar kabar terbaru soal ibu.

Aku sudah merantau ke Jakarta sejak usiaku menginjak 20 tahun. Saat itu, jiwa mudaku masih menggelegak sehingga saat ibu menyarankan agar aku buka usaha saja di Surabaya, tidak perlu kerja di Jakarta segala, aku menolaknya dengan halus. Memang dasar aku bandel, aku abaikan nasihat ibu saat itu. Aku lebih memilih jadi pegawai saja di Jakarta. Kebetulan aku mendapat panggilan kerja di salah satu kantor media pemberitaan yang cukup ternama. Sebagai anak muda yang sedang  semangat-semangatnya mencari jati diri, pergi ke Jakarta tentu menantang buat jiwa mudaku.

Saat itu aku tidak terlalu cemas meninggalkan ibu karena ada Bayu, adikku yang saat itu masih kelas 3 SMA. Bukankah aku juga butuh uang untuk biaya sekolah Bayu kelak? Sedangkan ibu yang hanya seorang penjahit rumahan tentu keberatan kalau harus menanggung semuanya sendiri. Oleh karena itu, aku akhirnya mantap merantau ke Ibukota.

Hingga tidak terasa sudah 8 tahun aku kerja di ibukota. Dan selama 8 tahun itu pun aku jarang sekali mengunjungi ibu. Jadwalku padat benar. Pekerjaanku sebagai kuli tinta yang harus mengejar-ngejar berita ke sana ke mari setiap hari sungguh amat menyita waktuku. Jangankan untuk pulang kampong dan bertemu, untuk meneleponnya saja kadang aku tidak punya waktu. Ah, betapa durhakanya aku ini. Aku harap dengan kepulanganku kali ini sedikit banyak bisa membuat kesehatan ibu berangsur-angsur membaik.

Aku memutuskan untuk minum sebentar di depan Surabaya Old Town ini. Entah tempat apa, pun aku terlalu lama di Jakarta tidak menotifikasi keberadaannya. Hanya kata mas-mas pedagan teh botol yang kuminum nama tempat ini adalah Surabaya Old Town. Meneguk sesedot demi sesedot teh dari botol beling ini, pikiranku menerawang ke percakapan semalam dengan si boss.

“Tolong pak kali ini saja izinkan saya cuti barang seminggu. Ibu saya sakit keras pak… selama ini saya belum pernah ambil cuti selama ini ‘kan pak? Saya mohon pak…” aku mengiba memnita ijin kepada pak boss.

“Dewo… dewo… dewo… kamu itu wartawan! Beginilah beban kerja yang harus kamu tanggung! Kamu ga bisa seenaknya ijin cuti seeming…” omongan pak boss terpotong.

“Tapi ibu saya sakit pak! Dan saya harus pulang!!!” aku berteriak keras sekali. Aku marah.

Sudah sejak sebulan lalu, saat Bayu mengabarkan kalau ibu diopname di rumah sakit, aku minta ijin untuk pulang ke kampung halaman barang sebentar menemui ibuku. Aku curiga pak bossku ini jangan-jangan bukan manusia. Hatinya beku benar. Hanya uang dan uang yang dipikirkannya selama ini. Memangnya aku kerbau dungu yang terus menerus dipaksa kerja walau sudah lelah. Gila! Lagipula aku kan tidak dalam rangka liburan ke Surabaya. Ah, begitu kira-kira makianku selama di kereta.

Akhirnya teh dalam botol beling ini habis juga. Airnya sukses membasahi kerongkongannku yang kering. Entah memang aku haus atau Surabaya yang tetap saja gersang sejak dulu.

“Piro, mas?” tanyaku sambil mengeluarkan dompet dari saku belakang celana kargoku. Seketika itu, handphoneku berbunyi lagi. Ah, pasti si boss. Aku lihat caller ID-nya. Ternyata Bayu, adikku.

“Ya dek, aku sedikit lagi sampe kok, tunggu wae” kataku.

Yang aku dapat adalah suara Bayu dengan nada yang berat,

“Mas… ibu, Mas… Ibu udah gak ono… sekarang jenasah ibu lagi diurus sama Pakdhe Karmo dan orang-orang kampung buat dikubur…”

Aku limbung. Mungkin istilah bagaikan disambar petir di siang bolong cocok untuk keadaanku saat ini.

Ibu… kenapa Ibu gak tunggu aku… Dewo pulang, Bu… Dewo sayang Ibu… harusnya Ibu tunggu Dewo pulang…Ibu… Dewo kembali… Aku kembali, Bu…

Advertisements

9 thoughts on “Aku Kembali

  1. assalaamualaykum…

    mas ini ceritanya sungguhan kah???

    jujur keren ceritany….. suka…. sebenarnya hampir sama…
    tadi aby telfon meminta mencari obat… ummy sakit. terbaring 4 hari…

    sngt ingin pulang…
    tpi senin besok harus UN

    semoga ummy masih bisa melihatku sukses untuknya dunia akhirat

    aamiin

    makasi mas ceritany

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s