Kita Baik, Karena Kita Memang Baik

Suatu waktu, di linimasa saya, ada tweet dari seorang teman yang berbunyi : “Kalau lu baik, gue bisa 2x lebih baik. Tapi, kalau lu jahat, gue juga bisa 2x lebih jahat!” Kira-kira begitu bunyinya. Lalu, apa yang saya lakukan? Saya meng-RT-nya! Hahaha… Konyol sekali. Seingat saya pada waktu itu memang sikap saya kekanak-kanakan sekali. Ya, pada masa itu. Masa di mana saya masih mentah sekali. Ego masih besar. Emosi labil. Cih, sounds pathetic ya? Hahaha…

Sampai suatu hari, saya mendapat pesan via BBM dari seseorang. Pesan itu berisi nasihat dari seorang Ustad ternama di Indonesia. Isi pesan itu mengatakan bahwa hendaknya sikap kita tidak dipengaruhi oleh orang lain. Lho? Maksudnya bagaimana? Jadi, begini kira-kira… Kalau kita datang ke suatu minimarket niat untuk berbelanja sebentar saja, dengan jiwa yang ceria kita berbelanja, tapi tiba-tiba begitu sampai di kasir disambut oleh mukanya si kasir yang masam lagi ketekuk dan kita sama sekali ga diperlakukan dengan ramah olehnya, baiknya rasa ceria yang tadi kita rasa waktu pertama kali niat belanja jangan jadi ikutan masam kayak mukanya si kasir. Tanamkan ke diri kita bahwa yang berhak mengatur akan bagaimana periang kita adalah diri kita sendiri. Bukan lantas karena si kasir cemberut, terus kita jadi ikutan badmood gituh? Terus harus ngomong WOW gituh? #eaaa

Dalam salah satu status Facebooknya, seorang motivator papan atas pernah menulis : Kalau kamu baik kepada orang, pastikan bukan karena dia juga pernah memperlakukan kamu dengan baik sebelumnya. Kamu baik kepada orang, ya karena memang kamu baik. Titik.

Jleb! Kedua tulisan di atas benar-benar mengoyak isi kepala saya. Gila! Jahat banget saya sampai berpikiran begitu kepada orang ya. Padahal kan kalau kita marah karena sikap orang, kita juga tho yang kena dosanya? Waduh… Sejak baca itu, saya berjanji, apapun perilaku orang terhadap saya, saya gak akan membiarkan mereka ‘mengatur’ sikap saya. Yup! I drive myself. And let God do the rest. Iya, kita sih tetap saja berbuat baik. Sekalipun dia sudah jahat sama kita, sekalipun dia memperlakukan kita dengan sikap yang kurang enak. Biar saja itu jadi urusan dia dan Tuhannya. Iya atau iya?

Jadi, kalau suatu saat di linimasa saya membaca tweet model begitu lagi, otak saya pasti akan merespon dan bergumam : kalau lu baik, gue bisa 2x lebih baik. Kalau lu jahat, gue gak akan 2x lebih jahat kok. Gue (Insya Allah) akan tetap baik. Perkara lu jahat sama gue, yah itu sih urusan lu sama Tuhan lu.

Oke? So, dendam itu ga penting ya. Sekali lagi, itu urusan Allah. Kita jangan kapok berbuat baik pada seseorang hanya karena kita ga dapat kebaikan yang sama dari orang itu.

Allah with us! 😉

Advertisements

2 thoughts on “Kita Baik, Karena Kita Memang Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s