Tersenyumlah, Karena Allah Selalu Bersama Kita

imagesInna lillahi wa inna ilaihi roji’un… Buat semuanya, mohon dimaafkan semua kesalahan ayahku… Semoga ayah tenang di sana.. Aamiin

Deg! Aku berjengit. Tulisan itu terpampang di status bbm sepupuku. Pakdhe meninggal. Ya, Allah… kenapa secepat ini? Baru saja setahun lalu Kau ambil suaminya. Dua bulan kemudian Kau ambil mertuanya. Dan sekarang Kau ambil ayahnya… Tapi aku mengerti, Allah… ya, aku mengerti…

***

Malam itu, aku memeluk erat Mbak Pit. Air mataku kali itu tidak tumpah. Tidak boleh tumpah. Mata Mbak Pit sudah terlalu sembab untuk menangis lagi dan lagi. Aku benar-benar hanya memeluknya. “Kenapa harus secepat ini pi… kenapa?” Mbak Pit menangis meraung-raung dalam pelukanku. Sungguh pukulan yang berat baginya, aku tahu. Aku semakin tidak bisa berkata-kata atau aku akan ikut meraung-raung juga karena tidak tahan melihat kesedihannya. Aku semakin memeluknya erat-erat. Membiarkan dia menumpahkan semuanya di pundakku, tanpa menyisipkan kata-kata “Sabar ya Mbak… Ikhlas… Mbak kuat!” seperti yang kemarin aku lakukan saat suaminya meninggal. Ah, rasa-rasanya air mataku sudah habis kala itu. Bagaimana tidak? Usia pernikahan Mbak Pit dan Mas Ewin belum genap setahun ditambah mereka baru saja kejatuhan bahagia lantaran anak mereka akhirnya lahir. Namun Allah berkehendak lain. Allah sayang Mbak Pit. Allah mengambil kembali nyawa suami Mbak Pit. Sungguh, Allah sayang sekali sama Mbak Pit…

Sepertinya juga baru kemarin sore Mbak Pit mulai bisa tersenyum lepas sejak kematian suaminya. Bermain-main dengan anaknya di halaman depan rumahku sambil menyuapi anaknya setiap sore hari. Tapi kemarin malam, air matanya harus keluar lagi. Entah untuk berapa lama lagi akan mengucur.

Mbak Pit pernah cerita padaku saat suaminya meninggal, dia sedih anaknya tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, Lalu aku bilang “Sabar Mbak… Masih ada Pakdhe, masih ada bapakku… Arvin pasti nggak akan kekurangan kasih sayang…” Dan yah… sekarang Pakdhe pun menyusul Mas Ewin.

Pakdhe sakit sudah seminggu. Entah karena kecapekan atau apa. Waktu Pakdhe dibawa ke RS, aku diwanti-wanti Budhe supaya nggak bilang sama keluarga, nggak bilang sama mbah kakung, nggak bilang sama bapak ibu. Budhe bilang “Nggak enak kalo semua jadi repot gara-gara Pakdhe. Biar Budhe sekeluarga yang urus sendiri.” Subhanallah… Dalam keadaan tertimpa musibah saja Budhe sangat enggan merepotkan. Ya Allah, sesungguhnya aku tahu, Budheku akan kuat ditinggal Pakdhe. Insya Allah…

Mbak Pit sekarang bingung. Kuliahnya harus lanjut atau berhenti. Aku bilang lanjut. Mbak Pit sudah tinggal skripsi saja. Kuliahnya sempat cuti setahun karena hamil setahun lalu. Sekarang dia tidak boleh menunda waktu lagi. Semua harus selesai secepatnya. Tapi ya itu. Mbak Pit takut Budhe tidak punya biaya lagi untuk membiayai skripsinya. “Skripsi ‘kan pasti makan uang banyak Pi. Belom wisudanya, belom ini itu… Yah kalo memang Mbak Pit harus berhenti kuliah dan akhirnya bekerja, Mbak mau kok. Mbak ikhlas. Mbak nggak mau ngerepotin budhe lagi.”

Lalu aku jawab. “Mbak jangan berpikiran begitu. Inget ‘kan apa pesan terakhir Pakdhe? Mbak harus kuliah. Harus jadi sarjana. Mbak nggak boleh berhenti kuliah. Soal biaya, tenang Mbak… saudara banyak. Mereka pasti nggak akan tutup mata sama keadaan ini. Mengingat Pakdhe semasa hidup juga suka membantu saudara-saudara yang lain, termasuk soal kuliah aku waktu itu.”

***

Mungkin terkesan seperti FTV atau sinetron ya. Yah, apapun itu. Inilah realitas yang terjadi sekarang dalam hidupku. Membuat aku lebih bersyukur dan lebih bersabar. Bahwa aku bukan satu-satunya orang yang paling menderita di dunia. Bahwa aku tidak seharusnya mengeluh di saat yang lain masih mencoba untuk kuat tegak berdiri. Aku harus lebih kuat. Harus!

FYI, usia pakdhe tidak jauh berbeda dengan bapakku. Dan usia Mbak Pit lebih muda setahun dariku. Aku saja tidak bisa membayangkan kalau ini semua menimpaku. Aku belum siap ditinggal Bapak. Pun ditinggal orang-orang yang aku sayangi. Sekalipun itu Rosi, adikku yang jarang rukun sama aku. Sungguh tidak bisa dibayangkan kalau aku harus kehilangan mereka. Setidaknya, bukan sekarang Tuhan…

Sungguh semua masalahku tidak ada apa-apanya dengan semua masalah yang harus Mbak Pit hadapi. Kehilangan suami, kehilangan Bapak. Semua ini menyadarkan aku, aku ternyata tidak lebih kuat dari Mbak Pit yang waktu upacara jaman SD dulu suka pingsan, Mbak PIt yang nggak bisa kena panas atau dia akan jatuh sakit, Mbak Pit yang nggak bisa dibentak budhe karena Mbak Pit begitu rapuh. Ah… Mbak Pit ternyata lebih kuat dari yang selama ini aku lihat. Aku istighfar… merasa takabur saat itu karena merasa lebih kuat dari Mbak Pit. Astaghfirullah!

Aku harap Mbak Pit terus maju. Jangan patah semangat. Masih ada aku. Kita dulu sering bermain bersama waktu arisan keluarga. Kita pernah menyukai orang yang sama waktu kecil. Iya mbak, hidup mbak masih akan indah ke depannya. Ingat senyum Arvin… sekarang dia hanya punya mbak sebagai ayah sekaligus ibu. Mbak harus semangat… Allah selalu bersama kita.

Advertisements

One thought on “Tersenyumlah, Karena Allah Selalu Bersama Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s