Perihal “Bangga”

Semalam, saya baru saja dibikin malu oleh seorang anak kecil berumur tiga tahun. Saya ulangi ya. TIGA TAHUN!!!

Gimana nggak, di usia yang masih amat sangat “mentah” begitu, si anak kecil sudah hapal sebagian besar surah-surah dalam Al-quran. Masya Allah! Padahal membaca saja dia belum bisa. Dia belajar hanya dari modal mendengarkan sang orangtua yang sehari-hari berbahasa Arab di rumah. Pun saya rasa orangtuanya juga sering mengaji di rumah sehingga saat si anak mendengarkan, secara otomatis senandung ayat-ayat Allah merasuk ke dalam ingatannya.

Saya jadi ingat, saya pun pernah merasakan hal itu. Waktu kecil saat tarawih, ketika sang imam membacakan Surat Al-A’la, saya selalu kesal. Masalahnya, surat itu panjangnya bukan main. Saya yang waktu itu belum tau apa nama surat tersebut, hanya menyebutnya sebagai “sabihis” karena memang kata itu yang diucapkan di awal surat.

Nah, karena rutin tarawih 30 hari plus sholat subuh juga, lama kelamaan surat “sabihis” itu jadi melekat di ingatan saya tanpa saya sadari. Padahal waktu disuruh menghapal oleh guru ngaji saya, perjuangannya bukan main. Itulah masa keemasan anak kecil, di mana masih belum banyak yang dipikirkan sehingga semua hapalan bisa masuk dengan mudah.

Saya juga pernah melihat bahwa NYATA anak kecil lebih mudah belajar membaca Iqro dibandingkan orang dewasa yang sudah S2 sekalipun. Padahal kalau dilogikakan, semakin dewasa harusnya semakin pintar. Ah, tapi itulah kuasa Allah…

Jadi, lebih bangga punya anak tiga tahun hafal Al-Quran atau jago casciscus bisa Bahasa Inggris? The choice is yours 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s