Dare Enough?

Di jaman serba gadget gini, seru kali ya kalau bertingkah anti-mainstream; menolak menggunakan handphone. At least, itulah yang sedang saya pikirkan sekarang.

Gimana ya, bisa apa nggak saya nggak tergantung sama handphone. Pikir saya sih praktis saja. Dulu sebelum ada handphone, hidup saya tetap bisa berjalan kok. Nah, maka sekarang kalau saya memutuskan untuk hidup tanpa handphone, mestinya juga bisa seperti itu ’kan?

Entahlah, saya merasa tidak bijak saja dalam menggunakan handphone. Kayaknya lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Astaghfirullahal’adziim… Nah, bagi orang yang belum bijak seperti saya, rasanya handphone malah menambah kesulitan saya untuk belajar bijak. Bukannya sibuk ibadah, malah nggosipin orang. Bukannya baca buku, malah silent reader dan kepo di Twitter. Astaghfirullah…

Pada dasarnya, saya bukan orang yang gadget-minded sih. Gadget saya nggak canggih-canggih amat. Asal bisa buat nelpon, sms, sekedar internetan buat tahu dunia luar. Dengan ukuran kamera megapiksel yang seadanya dan harga yang sewajarnya. Ah, handphone saya sungguh bukan barang mewah. Hobi saya juga suka berpetualang. Ke pelosok yang susah ketemu sinyal, ke gunung, dll. Dan itu bisa selama seminggu-an lebih. Dan saya fine-fine aja tuh nggak pakai handphone selama itu.

“Ya jelas aja lha wong cuma seminggu…”

Eits, jangan salah, saya juga pernah mengalami yang namanya handphone rusak dan saya ini masih terlalu bokek untuk beli handphone baru. (Tidak. Saya nggak mau bilang saya miskin. Karena memang saya tidak miskin, literally) Nah, pada saat itu selama berbulan-bulan saya nggak pakai handphone loh. Memang sih pada waktu itu juga handphone masih sangat langka jadi mungkin juga masih belum terasa gimana kehilangannya.

Well, sekarang saya berandai-andai, jika handphone saya yang sekarang rusak atau hilang, kira-kira gimana reaksi saya? Hmmm… mungkin saya bakal panik sebentar. Setelah itu kembali normal lagi. Saya sudah sering mengalami persoalan “ditinggal” oleh yang kesayangan, jadi rasanya sekedar kehilangan handphone saja bukan masalah besar bagi saya. Tapi, na’udzubillahimindzalik kalau handphone saya sampai harus hilang dan perkataan saya di atas menjadi takabur. Allah Maha Tahu. Lagipula, bukankah kalau sesuatu hilangnya dengan tiba-tiba akan memaksa kita untuk belajar?

Misak: saya berbuat salah, handphone saya disita oleh ortu. Bisa dipastikan saya mungkin gelisah dan merengek minta hape saya dikembalikan. Tapi coba gimana seandainya handphone itu dicopet? Mau mengadu ke mana selain sama Allah? Mau merengek ke mana minta dibalikin? Yang bisa dilakukan hanya mencoba terbiasa hidup tanpa handphone tersebut secara terpaksa. Mau tidak mau. Suka tidak suka.

Sekarang saya tanya, Anda pernah punya pikiran se-ekstrem itu? Hanya untuk tahu mana yang sebenar-benarnya peduli kalau Anda tidak ada kabar dan mana yang hanya bertanya kabar basa basi saja. Selamat mencoba 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s