Taman Bermain

Dia masih mengidamkan jalanan yang sepi, tempat di mana dia bisa berjalan asal saja sambil membawa pergi semua mimpi buruknya, tanpa perlu memikirkan apakah orang di rumahnya akan cemas karena ketidakpulangannya (ia malah kadang berharap ia tidak punya keluarga supaya dalam hidupnya tidak ada istilah “masalah keluarga”), tanpa peduli bahwa esok ia akan dicari-cari direktur karena ketidakhadirannya di kantor, tanpa mencemaskan apapun. Rasanya, begitu lebih damai baginya. Bagi jiwanya yang sesak akan masalah yang menurutnya tidak berujung.

Mungkin dia ingin berjongkok saja di pinggir jalan di ujung trotoar sambil memainkan debu-debu yang menumpuk di siku antara jalan dan jalur pedestrian itu, seraya menggumamkan keluh kesahnya yang sudah mengendap bertahun-tahun dan tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun.

Dia menyukai sepi. Tapi, ia menyayangkan surau yang selalu digembok ketika malam hari tiba. Kenapa dikunci, padahal bukankah manusia boleh dan bisa beribadah kapan saja? Toh, itu rumah Tuhan ’kan?

Kalau tidak ingat waras, dia pasti tidak akan pulang, tapi dia sadar jalanan juga bukan tempat yang ia mau. Jalanan sepi adalah taman hiburan bagi suasana hatinya yang mulai kacau dan penuh problematika. Bukan sebagai tempat tinggal.

Dini hari tiba. Dia masih menunduk lesu tidak berusaha menghitung berapa titik air mata yang sudah jatuh dan membasahi jalan beraspal itu. Pundaknya bergerak naik turun, sesenggukan. Ada sesak di dadanya yang tidak bisa dia bagi kepada siapapun.

Fajar pun akhirnya menyingsing. Ia lalu bangun dari kontemplasi panjang yang tidak solutif. Bergegas kembali ke rumah (mereka menyebutnya rumah, tapi baginya, tidak) dan harus mulai bersandiwara lagi seperti hari-hari yang selama 23 tahun ini ia sudah jalani. Memasang topeng terbaik supaya tidak ada yang bertanya dan menunjukkan simpati yang basa-basi padanya.

Kalau keluarganya tanya, dia biasanya menjawab: Aku habis lembur, Pak…

Advertisements

3 thoughts on “Taman Bermain

  1. wah Sel tau banyak diksi yah? walau pernah denger, aku ga tau arti kontemplasi apa.
    BTW whether this is fiction or not, I know what how it feel when home is not feel like home, and what you need just a space, alone. Full privacy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s