Dalam Dingin Malam

Perempuan itu masih menunggu. Sekalipun ia tahu hujan sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Tapi, perempuan itu tetap menunggu di depan salah satu toko yang sudah tutup sejak sore tadi. Tangannya bersedekap mencoba menghangatkan badannya sendiri dari terpaan angin hujan yang tidak juga mereda sejak ia pertama kali datang. Ia menunggu sambil sesekali melihat jam tangan putihnya yang sudah basah terkena percikan air. Telepon genggamnya ia cek berulang kali, memastikan ia tidak melewatkan sms atau telepon dari laki-laki yang ditunggunya perihal janji untuk bertemu malam ini. Sepatunya sudah basah, ujung celana panjangnya juga. Rambutnya pendeknya sedikit lepek. Tapi laki-laki itu masih tidak kunjung datang.

Perempuan itu tidak akan pernah bosan menunggu. Ia tidak akan marah pada sang laki-laki. Baginya, bertemu dengan laki-laki itu adalah sesuatu yang berharga yang ia yakini sebagai salah satu bentuk anugerah yang Tuhan beri tidak setiap kali. Perempuan itu bahkan tidak menyebalkan dengan terus-menerus mengirim sms atau menelepon menanyakan posisi si laki-laki. Ia tetap tenang menunggu, dengan segala harapan bahwa malam itu hujan akan segera reda, sehingga si laki-laki bisa datang sesegera mungkin. Tidak, tidak. Ia bukan perempuan yang akan marah-marah kalau orang yang ia tunggu terlambat datang dan ia dibiarkan menunggu lama dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Ia juga bukan tipe perempuan yang suka memaksa laki-laki untuk menjemputnya dalam setiap pertemuan mereka.

Perempuan itu sangat biasa saja dan bukan seorang penuntut. biarpun begitu, ia sadar sepenuhnya bahwa si laki-laki tidak menaruh perhatian sedikitpun kepadanya layaknya seorang pria menyukai seorang wanita. Mereka hanya berteman biasa. Tidak peduli bagaimana membuncahnya perasaan si perempuan itu ingin disayang, laki-laki itu tetap bergeming. Memegang teguh semua prinsipnya dalam berhubungan dengan wanita. Bahwa ia saat ini tidak sedang dalam keadaan haus belaian wanita, tetapi sedang fokus mengejar cita-cita. Orang bilang, impian masa muda.

Itulah sebabnya si perempuan tetap menunggu. Karena memang hanya itulah yang bisa ia lakukan. Menunggu dalam diam tanpa menuntut lebih dan mengemis hati. Dengan segala perasaan yang hanya mampu ia pendam dan kadang ia ekspresikan dengan cara yang tidak akan dipahami oleh si laki-laki. Yang ia lakukan hanya menunggu sambil berharap Tuhan berbaik hati mengubah takdirnya.

Sampai tiba pukul sebelas malam, setelah tiga jam lamanya ia berdiri dalam dinginnya malam hujan, laki-laki itu sungguh tidak datang, bahkan tidak mengabarkan. Tapi perempuan itu tidak marah. Kalau nanti si laki-laki mengajaknya bertemu lagi, sungguh ia tidak akan jera. Ia akan tetap datang. Dengan hati yang sama tenangnya, dengan pengharapan yang sama besarnya, dan dengan keyakinan yang sama dalamnya dengan semua yang ia bawa malam ini. Supaya Tuhan tahu bahwa hanya perempuan itulah yang tulus menyerahkan hidupnya pada si laki-laki. Hanya perempuan itu yang akan selalu ada buat si laki-laki, terlihat ataupun tidak. Hanya perempuan itu yang mencintai sang laki-laki tanpa pamrih. Tanpa syarat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s