Salah Satu Kontemplasi

Kemarin malam saya agak sakit hati dengan perkataan si adek. Hanya karena saya ga mau membelikan dia makanan karena prinsip saya: kalau mau mendapatkan hasil, harus berjuang. Alias kalau mau makan, ya beli sendiri di warung. Jangan terus-terusan mengandalkan orang. Masalahnya, hal ini sudah jadi bad habit. Nah, maksud saya bersikap seperti itu (read: menolak untuk dititipi supaya dia beli sendiri) biar dia mengubah kebiasaan buruknya. Tapi, dasar ABG, saya malah dibilang pelit, dibilang jahat, dan dia menyumpahi saya dengan kalimat-kalimat yang tidak seharusnya dilakukan seorang adik kepada kakaknya. Sakit hati karena dimaki dan disumpahi, rasanya sudah biasa dan akhirnya menjadi kebal, tapi saya ada satu kalimatnya menusuk yang bikin saya pengin nangis saat itu juga:

“Lo tuh pelit, Mbak! Percuma lo pakai kerudung kalo kelakuan lo kayak gitu!” katanya dengan nada membentak.

Saya tercekat dan terdiam beberapa saat. Astaghfirullah… sejahat itukah saya di mata dia? Well, iya. Mungkin iya. Lalu saya jawab tuduhannya.

“Gw pakai jilbab bukan berarti gw lantas harus jadi kayak nabi yang ga pernah berbuat salah dan dosa. Gw tetep manusia. Punya salah, punya kekurangan. Lain kali jangan asal ngomong ya. Cuma Allah yang boleh menghakimi gw mau ngapain dan Dia juga yang berhak memaki gw kalau gw salah. Ga usah ngomong seakan-akan lo udah lebih baik dari gw.” kata saya.

Tapi adek saya ada benarnya. Saya harus berbuat lebih baik ke depannya supaya jangan ada omongan: percuma lo pakai jilbab kalau bla bla bla…

Astaghfirullah… Bahkan sebelum saya berjilbab pun, saya selalu berusaha menekan diri saya untuk ga komentar negatif soal moral dan jilbab karena saya tahu kedua hal tersebut tidak sepenuhnya berkorelasi. Tidak bisa orang berjilbab dijadikan patokan bahwa dia harus baik selalu seperti seorang ustadzah dan santri. Pastilah ada khilaf karena kita sejatinya hanya manusia. Dan saya paling ga suka kalau ada yang mendikte saya: lo tuh jilbaban harusnya begini, jangan begini, ga boleh begitu… Oke, mungkin maksudnya menasihati tapi ada juga lho beberapa orang yang jatuhnya malah soktau dan sok ngatur kehidupan saya.

Intinya, semoga Allah senantiasa menjaga saya dan kita semua dari komentar-komentar dan tuduhan yang tidak baik. Jadikan komentar dan kritik sebagai pecut yang memotivasi kita untuk berbuat lebih baik lagi. Jangan jadikan komentar negativ tsb malah membuat kita jadi pribadi yang suka marah-marah dan doyan balas dendam dan debat. Biarlah hanya Allah yang berhak menilai sebaik apa hijab kita, akhlak kita, iman kita… Kita hanya bisa berharap semoga apa yang kita lakukan selalu diridhoi.

“Tanamlah kebaikan di manapun,kapanpun dan pada siapapun selagi bisa. Biarkan bunganya mengharumkan kita dengan cara-cara yang indah dan mengejutkan. Bukankah pertolongan Allah selalu datang tiba-tiba dan tidak Trduga? Nah, bisa jadi itulah jawaban (read: hasil panen) atas perbuatan kita di masa lalu.” – SR

Salam, fastabiqul khairat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s