Halte

tahukah kamu apa yang aku cari malam ini? apa? kamu? hmmm, meskipun sebenarnya aku ingin kamu di sini (dan memeluk kamu seerat-eratnya sambil menangis?), but you are not what i need at this time. aku mencari sebuah halte. yang sepi, namun ramai. bukan halte di mana dengan kemungkinan besar aku akan diculik. nope. aku ingin mencari halte yang ramai. tapi sepi. yep, aku memang rumit. sorry 🙂

tahukah kamu kenapa aku mencari halte? aku suntuk. aku penat. mataku menyapu tepi jalan barangkali aku menemukan halte yang cocok untuk bermeditasi. entahlah, aku hanya ingin duduk sebentar di halte itu. membiarkan mataku nyalang menatap ramainya jalanan ibukota. melihat keramaian dalam sepi. nah, sekarang kamu mengerti ’kan apa yang kumaksud?

aku mencari halte, karena aku bosan. aku marah pada diriku sendiri. okay, it sounds pathetic but yes aku sebenarnya kasihan pada diriku, pada diri yang selalu berpura-pura kuat dan mandiri. pada diriku yang selalu terlihat baik-baik saja padahal tidak juga. pada diriku yang tidak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri atas semua masalah yang terjadi.

aku
hanya
bingung
harus
berbuat
apa

maka, aku menulis ini. bukan di halte sepi. aku menulis ini di salah satu toko kelontong terkenal. kau ingat, kita pernah ke sini. menghabiskan waktu dengan obrolan tak tentu arah dan yeah, sedikit menyakitkan. but it is okay. aku sedang tidak ingin membicarakan itu. aku menyukai malam. larut malam lebih tepatnya. larut malam itu sepi. sepi adalah suasana terbaik buatku. aku tidak begitu suka pagi. kadang malah aku mengutuk pagi. buatku, pagi tidak pernah bersahabat sekalipun di akhir pekan. pagi selalu tidak mengenakkan. aku tidak membenci pagi. aku hanya tidak terlalu suka pagi.

omong-omong, aku belum cerita apa alasanku tidak jadi merenung di halte. kamu tahu, aku tidak ingin terlalu terbawa perasaan. maksudku, halte itu ’kan sepi, yeah siapa sih penduduk Jakarta yang masih tertib menunggu bus di halte? jadi aku tidak ingin sepinya halte itu menambah hasratku untuk menangis. walaupun tadi aku sudah melakukannya. kalau saja aku punya mobil, mungkin aku akan menepikan mobilku sebentar di jalanan sepi kemudian menangis sejadi-jadinya.

anyway, halte itu mungkin kesepian. merasa dibuang. oh, kecuali pada saat hujan, semua orang baru menyadari manfaatnya. halte itu, seperti aku, kurasa. di halte yang sepi itu tadinya bermaksud menulis ini. tentang kesepian, tentang kesendirian, tentang absurditas yang mungkin hanya aku dan Tuhan yang tahu. kamu bahkan tidak akan mengerti dan itu tidak membuatku tenang sama sekali. itulah mungkin satu-satunya keraguanku akan kamu.

banyak masalah. banyak air mata. tapi aku harap semua ini mendewasakan. oh iya, aku sebenarnya malas pulang ke rumah. rumah seperti bukan rumah bagiku. dan orang lain, sepertinya mereka berbahagia sekali dengan ’rumah’ mereka. jangan salah paham, aku bukan iri, bukan dengki. aku hanya marah pada diriku sendiri. kenapa aku tidak bisa seperti mereka?

mungkin cuma Tuhan yang punya jawabnya.

sebenarnya aku bukan mau mengeluh. no. sama sekali tidak. aku hanya tidak tahu harus menceritakan, membagi ini kepada siapa. you do not even care to me. thanks anyway. jadi, yah, aku rasa blog adalah teman terbaikku saat ini. juga secangkir kopi yang aku beli dari toko kelontong yang kumaksud tadi. ternyata minum kopi lumayan keren juga. setidaknya untuk saat ini.

well, pedihku sudah habis. sementara ini aku tidak ingin pulang ke rumah. aku membaca saja. entah sampai kapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s