Seseorang di Masa Lalu

Akun socmed yang sudah lama tidqk pernah dibuka ternyata mendatangkan berita baru. Saya mendapati kabar bahwa si dia akan menikah. Rasanya? Sedih. Tapi tidak yang luar biasa.

Dia ini adalah orang yang saya suka sejak hari ketiga MOS di SMA sampai lulus SMA dan kami pisah kampus pun, saya masih tetap suka. Katakanlah sekitar 3,5 tahun saya suka dia. Kami tidak berpacaran. Tidak mudah melupakan dia, apalagi moment sebelum lulus di mana dia AKHIRNYA berkata bahwa dia ternyata juga menyukai saya, tepat ketika saya bilang “I quit.” Tragis memang. Bahkan saya sangat menyesali kegengsian saya kala itu.

Selama 3,5 tahun itu, saya tidak pernah bilang saya suka dia. Setiap kali dia menanyakan langsung bagaimana sebenarnya perasaan saya ke dia, saya hanya bisa bercanda lalu pergi sebelum ketahuan berbohong. Ah, tapi, bohong atau tidak, saya yakin dia tahu saya suka dia.

Banyak teman yang tidak mendukung perasaan saya terhadapnya. Menurut beberapa sahabat, saya layak dapat yang lebih dari seorang dia. Tapi, namanya juga kadung suka, telinga tertutup dan mata memejam. Semua hal adalah benar jika itu tentang dia.

Hal yang saya suka darinya adalah dia itu pintar, rajin, dan dewasa. Oh, dan rajin sholat juga pastinya. Menyukainya membawa perubahan baik bagi saya. Saya yang tadinya tomboy, perlahan menjadi halus. Yang tadinya malas sholat, jadi rajin. Yang tadinya malas ke perpus, jadi getol. Yang tadinya malas belajar, jadi giat. Sadar atau tidak, saya berubah karena dia. Sampai suatu hari saya sadar, alasan saya berubah sungguh tidak logis. Maka, saya meluruskan kembali niat saya.

Singkat cerita, dia kuliah di IPB. Saya di Jakarta. Pun perasaan itu mengambang begitu saja. Saya masih menjaga hati ini buatnya. Saya tidak mudah mencintai. Saya tidak mudah untuk melupakan. Hingga dia mengirimkan SMS memberi kabar bahwa dia sudah punya pacar.Entah apa maksudnya dia mengabari saya hal seperti itu. Menginginkan saya supaya jangan berharap? Oh, semoga.

At the end, lama-lama perasaan itu terkubur juga. Saya akhirnya bilang bahwa saya menyukai dia. Sangat menyukainya. Dia hanya tersenyum dan berterima kasih. Klise.

Dan sekarang dia akan menikah. Ternyata begini rasanya kalau orang yang kita suka berdampingan dengan perempuan lain 🙂 Well, saya harus berdamai dengan situasi seperti ini. Mau tidak mau. Suka tidak suka. I will face it.

Sejak hari saya menyukainya, nama lengkapnya saya jadikan password di email saya. Sampai sekarang. Mungkin kalau dia nanti sudah resmi menikah, saya baru akan menggantinya. Eh tapi kenapa pula harus begitu? Kalau mau gamti ya ganti saja tho? :))

Doaku, semoga dia bahagia selalu. Si gadis menyayangi dan menghormati. Jadilah imam yang baik. Jangan lupa undang aku ;p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s