Pergi

Jam 9 saya mandi. Jam 10 saya sudah rapi. Mau pergi. Saya membangunkan Ibu yang sudah tidur. Pamit. Ibu lalu bertanya, “Mau ke mana sih kamu malam-malam begini?”. Lalu saya bilang saya butuh koneksi internet untuk kirim surel. Saya pamit sama Bapak. Bapak diam saja. Sepertinya masih marah sama saya. Saya bahkan bingung salah saya apa. Jadi saya hanya diam saja.

Dan sekarang di sinilah saya. Restoran 24 jam sekaligus coffee shop. Bermodalkan secangkir hot capuccino (sumpah, saya bahkan nggak sadar sejak kapan saya mulai doyan ngopi!) dan laptop kecil, saya mulai menulis surat.

Saya bukan menulis surat untuk penulis yang akan saya undang ke acara literasi dua hari lagi. Bukan.

Saya menulis surat untuknya.

Untuk dia yang saya tidak tahu kabarnya. Hati ini selalu bertanya-tanya, apakah hidupnya baik-baik saja? Apakah dia masih seperti dulu? Apakah dia sekarang sudah menemukan pelabuhan hatinya? Apakah masa depannya sudah mulai terlihat cerah? Atau bahkan hanya sekedar bertanya bagaimana potongan rambutnya sekarang.

Dia bisa saja mengacuhkan saya. Jelas, karena saya tidak berhak menanyakan hal itu. Tapi buat saya, menyampaikan apa yang ada di hati seperti melepas pergi jiwa-jiwa yang terpenjara. Terasa ringan ketika kamu sudah mengutarakan segalanya. Peduli setan akan bagaimana responnya kelak.

Tidak dibalas, tidak apa-apa. Saya mengerti. Seperti pengertian saya yang sudah-sudah akan dirinya.

Hmph. Enough. Sekarang barulah saya akan menulis surat beneran buat penulis tamu acara saya nanti itu. Heheheu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s