[Sudden Post] #2 – Hujan dan Segala Dendamnya

Naif sekali kalau saya berpikiran hujan dendam sama saya. Hujan benci saya. Hujan marah sama saya. Tapi memang itu yang saya rasakan.

Kalau begitu, saya juga bisa membenci hujan. Pikir saya.

Alih-alih membenci hujan, saya memilih untuk tidak menyukainya. Karena membenci terlalu membatasi. Padahal hujan tidak seburuk dan sejahat itu sehingga harus dibenci. Bukankah hujan juga salah satu rezeki dari Tuhan? Ya. Saya hanya sebatas tidak menyukai hujan.

Kalau kamu tanya kenapa, saya punya alasan tersendiri kenapa saya tidak suka hujan. Selain, seperti yang saya bilang di atas; hujan benci saya. Saya merasa hujan mau menghukum saya.

Coba bayangkan, pernah suatu kali saya ada latihan musik wajib yang harus dihadiri. Tapi karena hujan turun sore itu, saya jadi terlambat datang. Padahal saya sudah rapi dan necis tingkat dewa. Saya harus tampil maksimal saat itu. Saya begitu bersemangat. Sampai kemudian hujan turun dan mengacaukan segalanya. Saya sungguh tidak suka.

Sumber: di sini

Sumber: di sini

Bukan hanya itu saja, hujan juga seolah-olah suka sekali mengganggu saya dalam setiap pertemuan-pertemuan saya dengan orang penting. Secara tidak langsung, hujan merusak reputasi saya dalam hal “berjanji”.

Hujan pernah dengan angkuhnya mematikan mood saya yang terjebak banjir. Baju dan sepatu saya basah. Rambut lepek. Semua isi tas saya (dokumen penting!) keriting. Sayangnya, hujan itu benda mati. Kalau bukan, saya pastikan sudah saya cabik-cabik dirinya sekarang sampai hancur menjadi debu demi debu. Saya benar-benar tidak suka gangguan seperti itu.

Pernah suatu kali hujan menyebabkan saya terburu-buru sehingga saya tergelincir dan motor saya menghantam trotoar. Saya marah sekali. Semakin bertambahlah rasa tidak suka saya terhadap hujan. Maaf, Hujan.

Saya sudah mencoba mencintai hujan seperti orang-orang pada umumnya. Bahkan beberapa berpikir bahwa hujan itu romantis. Saya tidak bisa. Saya bukan mereka. Saya punya kedekatan tersendiri bersama hujan yang tidak bisa saya jelaskan kepada mereka.

Perlu diingat juga, saya Capricorn. Seorang Capricorn adalah orang yang perfeksinonis. Dan hujan kerap membuat segala rencana saya berantakan. What else can I say?

Hujan bikin macet jadi tambah macet.

Hujan membuat sepatu dan motor saya gampang kotor.

Saya tidak benci, hanya tidak suka. Bagaimanapun, hujan adalah rezeki, saya tahu. Saya tidak mengutuk hujan. Saya tetap bersyukur hujan masih turun.

Semoga kamu tidak masalah. Dan kalaupun kamu masalah, apa peduli saya?

P.S: Sadar atau tidak, saya berterima kasih pada hujan. Berkatnya, banyak yang bisa saya tulis di blog ini. Berkatnya, saya jadi mood menulis.

***

Sudden Post kedua, saya dan Kak Ayu posting bareng satu tema postingan, yaitu ‘hujan’. Berawal dari Kak Ayu yang bingung mau ngeblog apa padahal sedang ingin menulis. Kebetulan hujan sedang aktif belakangan ini. Jadilah ‘hujan’ menjadi inspirasi kami siang ini. 

Advertisements

One thought on “[Sudden Post] #2 – Hujan dan Segala Dendamnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s