Sidang Tilang, Tidak Serumit yang Dibayangkan

Akhirnya tanggal 11 April tiba juga.

Sudah sejak tadi malam saya sibuk memprediksi (bahkan sampai terbawa mimpi!) akan berjalan seperti apa hari ini. Tanggal 11 April adalah tanggal yang ditulis polisi yang menilang saya minggu lalu. Tanggal itu menunjukkan kapan saya harus datang ke pengadilan untuk menghadiri sidang. Kebetulan itu kali pertama saya ditilang polisi gara-gara lampu sorot depan motor saya redup. Memang lampu itu baru saja rusak tepat semalam sebelum polisi menilang saya keesokan paginya (bahkan sebelum saya sempat membawanya ke bengkel. Argh!). Polisi kemudian memberhentikan saya dan dengan menampilkan sikap “Oke, Pak, saya memang salah,” saya menepi. Ia lalu menuliskan sesuatu di lembaran merah sambil berkata, “Nanti sidang di pengadilan yang di Jalan Ampera ya. Biaya tilang antara lima puluh sampai seratus ribu,” demikian kata polisi itu. Tidak berlangsung lama, lima menit kemudian saya sudah bebas tentunya dengan STNK saya yang ditahan Pak Pol. (saya bahkan tidak sempat melihat badge nama di dadanya. Orangnya sedikit endut dan itu tidak menarik perhatian saya.) (lalu digeplak)

Sampai di kantor saya langsung sedikit curhat dengan teman saya.

“Eh, gue barusan ditilang nih. Gimana dong?” tanya saya pura-pura panik. (setidaknya tidak sepanik waktu saya dengar kabar Irwansyah akan menikah dengan Zaskia Sungkar).

Beberapa teman kerja, yang kebanyakan laki-laki seumuran saya, menjawab, “Duh, kenapa lo nggak damai di tempat aja sih? Repot lho, sidang tuh.”

Lalu saya tekankan ke mereka bahwa ini adalah kali pertama saya ditilang sehingga saya menurut saja ketika Pak Pol memberikan lembaran berwarna merah muda itu. Pun saya memang melanggar peraturan.

“Kalo lo sidang, bisa kena 75 ribu lho. Coba kalo lo damai, paling 20 ribu,” lanjut seseorang di antaranya.

Bukannya saya mau sok suci, tapi saya sejak awal sudah bertekad (bahkan sebelum saya bisa mengendarai motor) kalau saya kelak ditilang saya tidak akan “berdamai di tempat”. Katanya itu salah satu bentuk korupsi.

Untungnya ketika saya menyampaikan pendapat saya itu, teman-teman saya tidak mengecap saya sok suci. Malah beberapa di antara mereka akhirnya membantu saya, memberitahu bagaimana kira-kira proses sidang.

Ternyata sidang yang dimaksud di sini tidak seperti sidang yang biasa sering saya lihat di televisi, di mana seseorang yang disebut terdakwa dikelilingi oleh beberapa dewan hakim dan jaksa yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Sidang tilang ini mengingatkan saya saat pengambilan nilai jaman kuliah dulu. Ambil nomor antrean dengan menyerahkan surat tilang lalu menunggu untuk dipanggil. Tidak sampai lima menit proses itu berlangsung karena (ehem) saya perempuan sehingga ada loket khusus. Ini jelas menguntungkan. Padahal tadi ketika saya memarkirkan motor saya di tanah lapang di samping pengadilan, ada calo yang menawarkan untuk “membantu” mempercepat proses sidang saya.

“Mau ambil SIM juga, Mbak? Sini dibantu aja. Lama lho kalau antre sampai sore,” kata si Mas yang kebetulan saya tidak sempat tanya siapa namanya. (((ngapain juga nanya-nanya?)))

Teringat petuah teman-teman saya dengan pengalaman mereka yang sudah pernah menjalani proses sidang karena ditilang, yang mengatakan bahwa proses sidang paling lama sejam, saya sukses terhindar dari bujuk manis calo.

Saya hanya tersenyum sambil berkata pelan sekali selembut sutra bidadari “Nggak, Mas. Makasih,”

Dan FYI, calo-calo ini sudah betebaran seperti tukang kolak di bulan puasa di sepanjang Jalan Ampera. Mereka melambai-lambaikan tangan yang memegang kertas merah muda sambil tersenyum kepada motor-motor yang lewat. Saya pikir mereka ini tukang-tukang cat duco yang biasa saya lihat di daerah Senen. Setelah diteliti, (sambil mengingat-ingat kayaknya kertas merah muda yang mereka pegang itu familiar deh) ternyata itu kertas tilang. Ternyata mereka calo! (((lagi-lagi saya terlambat mengerti)))

Memasuki pengadilan yang ternyata 98% berisi mas-mas, bapak-bapak, om-om, dan sejenisnya itu lumayan bikin saya jiper juga. Mosok iya gue harus berjubel di antara makhluk batangan ini? Pikir saya. Dan serentetan gumaman dalam hati lainnya seperti;

“Kalo gini caranya beneran bisa sampe sore nih gue.”

“Kira-kira kena berapa ya nanti dendanya?”

“Ini nggak ada Mbak-mbak lain apa selain gue?”

Dst,

Dst…

Namun ndilalah Tuhan menuntun mata saya untuk melihat adanya secercah sinar di ujung sana. Sinar itu bertuliskan “Loket Khusus Wanita”. Mendapati hal itu, dalam hati saya bersyukur juga terlahir sebagai perempuan. (((jadi selama ini nggak bersyukur, Selp???)))

Seperti yang sudah saya tulis di atas. Proses ini hanya berlangsung selama lima menit saja. Begitu saya menyerahkan surat tilang saya, si Mbak memberikan saya nomor antrean 51 (saat menerima ini saya agak lega karena saya tahu antrean laki-laki sampai mencapai nomor 750-an), meminta saya menunggu dan jangan ke mana-mana, katanya, lalu dalam beberapa detik saja ia kembali dengan membawa STNK saya sambil menyebutkan berapa denda yang harus saya bayar. Sama sekali nggak perlu nunggu sampai antrean ke-51.

“Hah? Gini doang nih?” batin saya takjub. Wah ternyata cepat juga ya prosesnya. Kalau begini mah ditilang setiap hari juga gak masalah dong ya. (((AMIT-AMIIITTT!!!)))

Saat saya kembali ke parkiran, si Mas-mas calo yang tadi menawarkan diri untuk membantu saya keheranan, “Kok cepet, Mbak?”

Tapi dia lebih terheran-heran lagi karena saya menjawab, “Iya, Mas. Kebetulan saya anaknya Pak Hakim di sini.”

Kemudian saya pulang dengan jiwa yang (sedikit) berbangga karena saya perempuan, saya mandiri, dan saya tidak pakai jasa calo! Yeah!

PS: diam-diam saya penasaran juga dengan nasib para laki-laki yang mengantre sampai nomor 750-an itu.

Advertisements

4 thoughts on “Sidang Tilang, Tidak Serumit yang Dibayangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s