Menulis

Dengan amat malu-malu, saya ingin buat pengakuan kalau saya sekarang sedang menulis sebuah novel. Novel ini bergenre remaja yang niatnya saya ikutkan lomba menulis yang diadakan oleh salah satu penerbit. Kalau tidak begitu, rasanya akan sulit bagi saya memecut diri sendiri sebab saya termasuk orang yang cenderung santai dan tidak ambisius. Nah, saya ingin bercerita sedikit mengenai pengalaman saya menulis.

Bagi seseorang yang perfeksionis seperti saya, rasanya butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan kalimat pembuka yang apik. Saya tahu saya masih amat pemula sehingga sebenarnya wajar saja kalau kalimat pembuka saya diawali dengan adegan yang sedikit aneha tetapi dalam pikiran saya selalu berusaha keras, bahkan cenderung memaksakan diri, untuk membuat kalimat pembuka yang WAH. Inilah salah satu alasan kenapa tulisan saya susah berkembang.

Kedua, genre yang saya tulis adalah genre remaja. Saya agak kesulitan juga sebab saya jarang baca buku remaja, saya skeptis dengan hal-hal berbau cinta, dan saya lebih suka menulis narasi ketimbang dialog. Sehingga waktu saya nulis dialog saya seperti kehabisan kata-kata. Miskin.

Kemudian hal lain yang saya rasa sulit adalah mengapresiasi karya sendiri. Ketika manulis, saya kerap memosisikan diri saya sebagai pembaca sehingga akhirnya saya tidak puas dengan tulisan saya lalu masuklah ia ke recycle bin. Padahal saya sadar betul, pembaca buku bagus belum tentu bisa menulis buku bagus. Karena pembaca dan penulis adalah dua kegiatan yang berbeda, meski tidak bisa dipisahkan.

Selama menulis, saya banyak telusuri blog-blog yang sekiranya bisa menambah kualitas tulisan dan ide saya. Alhamdulillah saya belajar banyak dari blog-blog tersebut. Sekarang, masalah ide. Rasanya sulit menciptakan konflik. Padahal kalau mau ambil dari pengalaman pribadi sih bisa-bisa saja. Hahaha. Simple answer is, saya masih belum punya kemampuan untuk itu.

Ah, dari tadi saya hanya bilang rasanya-rasanya. Berarti hanya perasaan semata dong? Hahaha. ya bisa saja. Yuk, ah nulis! Menyemangati diri sendiri ternyata jauh lebih sulit ya. Jadi benar adanya pepatah yang bilang bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Menulis

  1. Semangat, Selvi!
    Aku juga lagi mau nulis novel. Rencananya sebelum akhir Agustus selesai. Semoga kita sama-sama berhasil, ya.
    Saranku sih, tulis saja dulu sesuai dengan pemikiran kamu. Edit lagi nanti, karena kalau tulis sambil cek ulang gak akan selesai-selesai *iya ini curhat

    • :-O
      wah senasib chei… huhuhu
      aku tuh perfeksionis sih jadi ya gitu ga kelar2 kayaknya :hammer:

      *nangis*

      makasih banget sarannya chei. berguna banget 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s