Pikir

Seseorang pernah melemparkan pertanyaan melalui tweetnya yang berbunyi; “Jadi, sudah berapa orang yang kamu unfollow/ unshare selama masa kampanye?”. Membaca itu, saya hanya tersenyum. Tidak mereply dan tidak bereaksi apa-apa kecuali berpikir.

Pikiran pertama, kenapa pula harus unfollow/ unshare? Oh, mungkin karena ada beberapa hal yang diutarakan teman Anda yang tidak Anda sukai. Atau karena teman Anda itu bicaranya kasar sekali dan menyebalkan. Lho, lalu di mana letak kesalahannya? Tidak ada. Namanya juga media sosial, Anda bersosialisasi lewat itu. Dan kalaupun ada hal-hal yang tidak berkenan pada diri teman Anda, kenapa Anda harus menolaknya? Oh. okay, mungkin perlu saya jelaskan bahwa ketika Anda unfollow/ unshare/ un-un yang lain itu sesungguhnya diri Anda menolak pemikiran orang. Beda hal kalau teman Anda mulai melakukan personal insulting terhadap Anda. Tidak terima juga? Ya, terserah.

Kedua, Anda kan bicara soal politik. Wajar lah kalau panas. Kalau tidak mau panas, ya jangan bicara soal politik. Bagaimana ya, menurut saya politik dan debat panas itu seperti satu paket. Anda tidak seharusnya bicara politik tetapi menolak pandangan politik yang berbeda. Menurut saya itu aneh. Seperti sudah tahu akan ada kebakaran, tetapi api tetap Anda nyalakan. Anda tahu sampah itu bau, tetapi Anda masih saja duduk dekat sampah.

Ketiga, untuk menjawab pertanyaan di atas, saya lebih memilih mundur dari percakapan alias ketika timeline sedang ribut-ribut soal politik, bukan saya yang unshare atau unfollow mereka tetapi saya yang memisahkan diri. Sebab, kalau sudah tahu timeline tidak nyaman untuk dikunjungi, buat apa lah masih ditelusuri? Tidak ada salahnya rehat sejenak dari urusan copras capres. Kalau tidak, ya nikmati saja politik kotor.

Postingan ini hanya menggaruk gatal yang sudah lama saya diamkan. Jengah juga rasanya membaca komentar orang yang mengomentari orang lain yang komentar. Tidak ada yang baca ya tidak masalah sebab saya menulis untuk terapi kejiwaan diri saya sendiri kok.

P.S.: Mainstream sekali orang-orang itu. Berdiskusi dan berdebat via media sosial. Kenapa tidak ketemu saja dan minum kopi bersama?

Advertisements

One thought on “Pikir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s