Hikayat Kesedihan

Hari ini aku belajar arti baru kesedihan. Aku bisa lihat itu di matamu, pada sungging senyummu, pada cara bicaramu.

Itu adalah sedih yang kau tumbuk dengan alu pejalmu, berusaha kau hancurkan tapi tak kunjung hancur meski segenap tenaga telah kau kerahkan.
Itu adalah potongan hatimu yang patah, yang tak minat kau rapikan lagi, sebab kau menikmatinya.
Itu adalah keping-keping duka yang kau cacah sedemikian rupa berharap ia menjadi debu lalu sirna ditiup angin.

Tetapi kesedihan tetaplah kesedihan.

Kau tak bisa memilih akan sedih seberapa banyak. Mungkin kau bisa menutupinya tapi kau tahu sedihmu tak sesedikit kelihatannya. Sedihmu adalah rindu yang tidak pernah bisa kauucapkan bahkan sampai waktu tidak bisa diajak kompromi lagi. Lalu barulah kau sadar, sedihmu akan mengabadi.

Kemudian kau mulai berteman dengan sedih yang kau pelihara baik-baik. Aku hanya ingin bilang, sedih bukan gula yang harus dilarutkan. Sedih adalah ampas kopi yang mengendap dalam cawan.

Tetapi aku menghargai kesedihanmu. Aku ingin mengerti dan tiba-tiba ingin mencoba berteman juga dengannya. Sedihmu menarik. Sedihmu menyita. Sedihmu adalah sedihku juga, pada akhirnya.

Maka, hari ini, kurumuskan sedih adalah sedih, sampai kau tidak malu membaginya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s