Rumah Duka

Ayahmu pengajar yang berpulang di Hari Guru. Ayahmu pengajar mata pelajaran pendidikan jasmani yang tidak memperhatikan jasmaninya sendiri. Rasanya sulit untuk tidak bilang sungguh ironi hidup ini. “Baguslah. Banyak hal kebetulan terjadi bersamaan. Setidaknya itu akan memudahkanku mengingatnya,” ucapmu enteng, sambil menatap ke depan, entah apa yang kau tatap. “Kau sudah menangis?” “Sudah. Itupun karena aku tidak kuat melihat ibu dan kakakku menangis. Sejujurnya, aku tidak terlalu dekat dengan Ayah,” “Kalau sekarang kau ingin menangis, tak apa, menangislah.” “Tidak perlu. Sudah ada kamu,” “Sudah makan?” Kau diam agak lama. “Sepertinya sudah. Ya, sudah kok,” “Baju ini pasti belum kau ganti sejak kau berangkat kerja tadi pagi,” kataku terus mengomentari hal-hal yang kurang penting. Memang apa lagi yang bisa kaukatakan untuk seseorang yang sedang berduka? Kau tidak akan punya sesuatu apapun untuk dikatakan alih-alih keinginan untuk memeluknya. Tapi bagiku, opsi kedua tidak akan pernah terjadi. “Aku bahkan belum sempat bekerja hari ini. Hanya datang ke kantor untuk pulang,” Sudah itu, aku tidak bertanya lagi. Kita saling diam untuk waktu yang agak lama. Para pelayat hilir mudik namun kita tetap khusyuk menikmati sunyi yang terjadi di antara kita. Lalu kau mengajakku masuk ke dalam. “Tidakkah kau ingin lihat ayahku?” katamu. “Ayo,” kubilang. Di dalam, kita berdoa, kau memimpin doa. Entah doa yang ke berapa juta kali. Barulah saat itu kutahu kemampuan mengajimu. Aku merinding. Kemudian kau menengok ke dalam kamar. Ada ibumu berbaring di kasur situ, sambil tak henti menangis. “Ibu masih shock. Temuilah dan hibur dia,” Aku masuk ke kamar. Banyak saudaramu di dalam, aku menyalami mereka satu-satu sebelum aku mencium tangan dan pipi ibumu, serta memeluknya sebentar. “Maafkan semua kesalahan Bapak, ya,” kata ibumu sambil menangis penuh haru. Rupanya kau tidak berbohong ketika mengatakan bahwa ibumu cantik. Kepadaku, kau selalu membual bahwa ketampanan yang kaumiliki adalah berkat ibumu. Tapi hari ini kubuktikan sendiri, ibumu memang cantik. Flawless. “Aku akan menemanimu,” kataku. Kau hanya mengangguk. Sepanjang malam itu, kami menghayati duka dengan cara masing-masing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s