New Place, New Hope

Minggu ini saya dan keluarga resmi menempati rumah kontrakan baru. Walaupun harga sewanya lebih mahal dari yang sebelumnya, rumah baru ini sangat nyaman dan lebih dari cukup untuk kami tempati. Tadinya saya desperate mau sewa apartemen saja. Harga sewa per bulannya tidak lumayan jauh berbeda. Tapi kemudian mikir gimana dengan sekolah Ilham dan terapi ibu.

Prosesnya seperti bertemu jodoh (kayak udah nemu aja lu, Selp). Pulang kantor, baru sempat parkir motor, belum lepas jaket dan helm, ibu tiba-tiba bilang ada tawaran kontrakan baru. Surveilah saya ke sana, mumpung baru parkir motor. Tapi ternyata gak cocok dan jauh dari ekspektasi. Lalu gak berapa lama, ada tetangga menawarkan. Saya pun langsung tancap gas menuju rumah yang dimaksud. Ternyata bangunannya baru, luas, pokoknya jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Saat itu juga saya langsung bertemu dengan pemilik rumah untuk nego harga sewa. Setelah oke, saya pulang menemui ibu saya dan saya tidak mengatakan apa-apa saat itu kecuali mengacungkan jempol saya. Ibu penasaran dengan penilaian saya sebab ibu tahu saya termasuk picky dan perfeksionis. Lalu saya ajak ibu melihat rumahnya dan rupanya dia juga sama seperti saya; jatuh cinta pada pandangan pertama. Ibu deal, saya deal. Saya langsung bayar cash. Bapak dan adik-adik saya tentunya gak akan keberatan dengan keputusan ibu dan saya (ya, saya tahu, sebab kami kan keluarga). Meskipun awalnya bapak sempat ragu kenapa saya begitu cepat memutuskan untuk menyewa rumah tersebut. Kami pindahan malam itu juga. Sedikit demi sedikit. Yang merepotkan tentunya buku-buku saya, kata ibu. Hahahaha.

Kenapa kami terkesan begitu buru-buru pindah rumah? Well, sebenarnya sudah sejak lama pengin pindah tapi ya itu tadi, belum jodoh, sehingga susah cari rumah yang cocok. Rumah yang sebelumnya ditempati ibarat rumah persinggahan di mana kami memang tidak niat mengontrak lama di situ karena faktor harga tidak sesuai dengan kondisi bangunan (ingat, bangunan dan saya adalah hal yang sangat dekat). Tujuan kami saat itu yang penting pindah dari rumah lama yang kondisi lingkungannya sudah tidak kondusif. Sebagai sekadar penyewa, kami tahu diri. Kebetulan saya dan bapak bukan tipikal yang suka cari ribut dengan tetangga (saat itu ibu masih tinggal di Magelang untuk pengobatan).

Kekurangannya rumah yang sekarang adalah agak jauh dari jalan utama sehingga kami agak kesulitan kalau mau cari makan atau jajan (makanan mulu aja yang dipikirin). Mungkin masalah waktu saja yang akan membuat kami terbiasa. Lingkungan dan rumahnya sendiri sih boleh dibilang sangat kondusif.

Yuk yang mau main ke rumah, monggo lho πŸ˜€

Advertisements

9 thoughts on “New Place, New Hope

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s