Me Vs Myself

Long time no see, Bloggie!

Sekarang lagi bingung karena gak punya tempat berbagi pikiran. Akhirnya nulis di sini aja deh. Hehe…

Bisa dibilang saya lagi dalam masa-masa down. Gak punya teman untuk berbagi, gak ada tempat untuk cerita. Hingga saya jadi sibuk berjibaku sendiri dengan pikiran-pikiran yang terus bertindihan.

Pertama, kontrol emosi itu bikin emosi. Saya gampang banget marah atau sensi atas sesuatu yang sepele banget. Kalah pas main games, misalnya. Saya marah karena saya kok lemah banget ya, gak bisa meredam kemarahan sepele begitu. Saya merasa “gak dewasa banget ya gue”.

Kedua, kok rasanya saya tuh susah ya memaafkan diri sendiri. Setiap bikin kesalahan, pasti jadi kepikiran. Padahal kadang itu gak sepenuhnya salah saya. Malah, kadang itu memang bukan salah saya, tapi karena masalah itu hubungan saya dengan orang lain jadi gak baik. Makanya saya ga bisa tenang. Kepikiran terus. Setelah itu, minta maaf, okelah dimaafin. Tapi habis itu jadi insecure sendiri.

Tulus gak yah dia maafin gue?
Bakal diomongin di belakang apa gak ya?

Jadi sakit sendiri mikirinnya. Padahal belum tentu begitu. Ya, pikiran saya suka menyerang saya, sadar atau tidak. Saya benci kondisi begini.

Ketiga, saya kurang melampiaskan emosi saya. Saya perlu nangis, perlu teriak, perlu marah-marah….. sama benda mati. Saya cenderung memendam emosi sehingga saya sendiri gak tahu kapan akan meledak. Saya gak suka saya yang seperti ini yang seolah-olah tenang, padahal siap untuk menyemburkan lava. Tapi gimana lagi, saya bukan orang yang meledak-meledak saat itu juga. Saya butuh waktu berpikir “worth it gak kalo gue marah?”

Apa marah satu-satunya cara?
Kalo gue marah, selanjutnya apa? Kepuasaan pribadi doang, atau ada hal manfaat lain?

In the end, saya gak jadi marah. Padahal perlu. Harus ada yang dirilis. Lalu numpuk dan numpuk dan numpuk. Nunggu waktu kapan bakal ngebom. Ah, shiro! >_<

So, dari situ saya mikir gimana hidup saya nanti. Apa bakal kayak gitu terus atau gak. Capek loh konflik batin. Saya berharap kelak dapat pasangan yang bisa menenangkan dan menyemangati saya. Yang menerima saya yang seperti ini. Yang sudi mendengarkan cerita-cerita saya, terlepas itu penting atau gak. Gak susah kan ya? Semoga enggak. Hehe..

Semoga yang lain bisa memahami, bahwa saya manusia yang punya masalah juga. Punya kesedihan yang ga bisa dibagi. Punya kebahagiaan yang ga bisa diutarakan. Gak bisa terus senyum, gak bisa terus ramah. Ada masa-masa up and down.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s